Now Playing Tracks

SINDIKAT

Majalah Detik Edisi 8-14 September 2014.

Kamir Santoso tak ubahnya tokoh penjahat besar dalam film-film kejahatan terorganisir. Polisi menyebut bandar sabu ini bagian dari jaringan besar triad di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Namanya muncul lagi dalam kasus penangkapan Ajun Komisaris Besar Idha Endri Prastiono di Kuching, Sarawak, Malaysia. Kurir asal Filipina yang diduga akan mengantarkan sabu kepada Prastiono dan juga istrinya sendiri, Titi Yusnawati, diduga punya kedekatan istimewa dengan Kamir.

Namun memasukkan cerita Kamir dalam kisah Prastiono akan membuat ceritanya kelewat melebar. Maka dalam konteks ini infografis berperan menampilkan informasi yang penting tapi tidak banyak hal baru dan terlalu panjang buat disatukan dengan tulisan.

Menciptakan sebuah negara Islam di Indonesia akan mengingkari negara kesatuan. Menciptakan negara Islam di Indonesia berarti menciptakan suatu negara yang hanya dihubungkan dengan kelompok terbesar di negara ini.

Jika ini terjadi akan menciptakan masalah besar dengan orang-orang Kristen dan kelompok minoritas yang lain, walaupun negara Islam akan melindungi kelompok-kelompok tersebut, mereka tidak akan merasa terlibat dalam negara ini.

Bentuk ideal negara Islam tidak sesuai dengan bentuk ideal negara kesatuan yang kita cita-citakan.

Mr. R. Soepomo, Panitia Kecil Penyusunan UUD 1945

Gak pernah terlalu mikirin soal ini sih, tapi menurut situs ini saya tergolong Libertarian Leftist 

Bersama saya ada Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela. Tidak satu grup sama Barack Obama dan pemimpin negara barat (mereka di wilayah biru) dan tidak satu grup sama Paus Benediktus XVI dan Hugo Chavez (mereka di merah)

Silahken coba sendiri di http://www.politicalcompass.org/test tapi aku mengingatkan kuesionernya panjang dan njlimet. Tapi penuh pertanyaan mendasar soal sikap kita yang sebenarnya soal isu-isu mendasar.

Tantangan Menyajikan Kekayaan Tersangka Korupsi

Menulis soal kasus korupsi biasanya tak lepas dari menelisik harta sang tersangka rasuah.  Informasi dasarnya adalah Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara di Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dokumen laporan kekayaan itu formatnya baku dan yang berbeda hanya jumlah dan banyaknya harta. Maka tantangannya adalah berkali-kali menyajikan informasi yang pada dasarnya sama, namun tidak pengulangan dan tak menjemukan.

"Infografis 1" soal harta Angelina Sondakh ini format yang paling sederhana. Nah "Infografis 2" soal kekayaan Hadi ini dibuat dengan lebih mengikuti cerita.

Hadi menyatakan diri hobi jual-beli tanah sejak remaja. Maka konsep infografisnya pun permainan monopoli yang menekankan jumlah aset. Pekerjaan lebih diberikan pada memberikan total luas tanah dan .  

Ketika membuat “Infografis 3” tak bisa lagi memakai monopoli. Penekanan informasinya pun sedikit berbeda, yakni makin membesarnya harta dalam waktu yang relatif singkat.

Mana yang lebih Anda suka?

Memoles Hasil Survei Politik

Survei-survei politik menjamur pada “Tahun Politik”. Angka-angka berisi popularitas, elektabilitas, dan prediksi perolehan suara pun bertebaran dari banyak lembaga survei.

Namun menyajikan hasil survei dengan diagram batang dan pie chart sudah terlalu klise, maka dicari format lain. Karena yang disajikan adalah soal peluang perolehan suara dan hubungannya dengan pilihan pasangan, maka dipillih tema “chemistry”.

Seperti inilah hasilnya.

Mengolah Data dari Institusi Pemerintah

Jurnalisme berbasis data mau tak mau memang masih bergantung pada dokumen dari insitusi pemerintah. Profesor ilmu jurnalistik University of Arizona, Steve Doig, mewanti-wanti bahwa data dari institusi pelat merah seperti itu biasanya tidak akurat.

"Mereka mengumpulkan data buat tujuan birokrasi," kata Doig. "Tapi kita membutuhkannya buat tujuan analasis karena itu diperlukan akurasi."

Kesalahan data itu bisa sesederhana salah ketik. Karena itu, kata Doig, jurnalis harus membersihkan data itu sebelum mengolahnya.

Masalah itu yang muncul ketika mengolah data kasus kejahatan dengan korban anak-anak. Laporan itu disusun oleh Kepolisian Daerah Jawa Barat.

Sepintas memang diolah secara rapi dalam tabel dengan rupa-rupa kolom. Namun ketika diolah banyak data yang bolong mulai dari yang umum seperti usia hingga yang krusial seperti proses hukum terhadap sebuah kasus.

Ada banyak data yang mendadak jadi tidak valid karena ada gundukan informasi yang berstatus “tidak ada keterangan”. Tapi sayang kalau data ini tak ditampilkan karena ada informasi penting yang bisa disampaikan melalui infografis ini.

Maka data yang berstatus “tak ada keterangan” itu dikesampingkan. Lalu dipilih yang masih berkualitas seperti jumlah korban, profil pelaku, dan profil korban.

Data yang sudah “dibersihkan” ini bisa menjelaskan benarkah kasus kekerasan seksual di Sukabumi terbilang “kejadian luar biasa” seperti ditetapkan Wali Kota Sukabumi M. Muraz.

Dengan rentetan berita kasus sejenis selepas yang menimpa siswa taman kanak-kanak Jakarta International School, sebenarnya seberapa banyak kasus serupa? Ternyata dari 256 kasus dengan korban anak-anak, hampir seluruhnya atau 243 kasus adalah kekerasan seksual.

Lalu seperti apa profil pelaku? Tentunya ini bukan mencari stereotipe, tapi menyiapkan bahan rujukan demi memikirkan pendidikan kewaspadaan seperti apa yang perlu disampaikan. Apalagi data menunjukkan pelaku mayoritas orang dekat dan dikenal korban.

Lantas kenapa memilih Jawa Barat dan bukannya memakai data nasional seperti milik KPAI? Sekali lagi tujuannya adalah memberi konteks terhadap kasus di Sukabumi.

Apakah dia memang luar biasa ataukah pada dasarnya di wilayah sekitarnya juga banyak terjadi. Apakah kasus itu tersendiri dan unik ataukah memang sebongkah salju di puncak gunung es kasus serupa.

Hasil lebih jelasnya bisa dilihat di Majalah Detik edisi 128. Bisa diunduh secara gratis di: http://majalah.detik.com/read/2014/05/09/223110/2578758/1314/catatan-horor-si-emon

We make Tumblr themes