Now Playing Tracks

Gak pernah terlalu mikirin soal ini sih, tapi menurut situs ini saya tergolong Libertarian Leftist 

Bersama saya ada Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela. Tidak satu grup sama Barack Obama dan pemimpin negara barat (mereka di wilayah biru) dan tidak satu grup sama Paus Benediktus XVI dan Hugo Chavez (mereka di merah)

Silahken coba sendiri di http://www.politicalcompass.org/test tapi aku mengingatkan kuesionernya panjang dan njlimet. Tapi penuh pertanyaan mendasar soal sikap kita yang sebenarnya soal isu-isu mendasar.

Tantangan Menyajikan Kekayaan Tersangka Korupsi

Menulis soal kasus korupsi biasanya tak lepas dari menelisik harta sang tersangka rasuah.  Informasi dasarnya adalah Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara di Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dokumen laporan kekayaan itu formatnya baku dan yang berbeda hanya jumlah dan banyaknya harta. Maka tantangannya adalah berkali-kali menyajikan informasi yang pada dasarnya sama, namun tidak pengulangan dan tak menjemukan.

"Infografis 1" soal harta Angelina Sondakh ini format yang paling sederhana. Nah "Infografis 2" soal kekayaan Hadi ini dibuat dengan lebih mengikuti cerita.

Hadi menyatakan diri hobi jual-beli tanah sejak remaja. Maka konsep infografisnya pun permainan monopoli yang menekankan jumlah aset. Pekerjaan lebih diberikan pada memberikan total luas tanah dan .  

Ketika membuat “Infografis 3” tak bisa lagi memakai monopoli. Penekanan informasinya pun sedikit berbeda, yakni makin membesarnya harta dalam waktu yang relatif singkat.

Mana yang lebih Anda suka?

Memoles Hasil Survei Politik

Survei-survei politik menjamur pada “Tahun Politik”. Angka-angka berisi popularitas, elektabilitas, dan prediksi perolehan suara pun bertebaran dari banyak lembaga survei.

Namun menyajikan hasil survei dengan diagram batang dan pie chart sudah terlalu klise, maka dicari format lain. Karena yang disajikan adalah soal peluang perolehan suara dan hubungannya dengan pilihan pasangan, maka dipillih tema “chemistry”.

Seperti inilah hasilnya.

Mengolah Data dari Institusi Pemerintah

Jurnalisme berbasis data mau tak mau memang masih bergantung pada dokumen dari insitusi pemerintah. Profesor ilmu jurnalistik University of Arizona, Steve Doig, mewanti-wanti bahwa data dari institusi pelat merah seperti itu biasanya tidak akurat.

"Mereka mengumpulkan data buat tujuan birokrasi," kata Doig. "Tapi kita membutuhkannya buat tujuan analasis karena itu diperlukan akurasi."

Kesalahan data itu bisa sesederhana salah ketik. Karena itu, kata Doig, jurnalis harus membersihkan data itu sebelum mengolahnya.

Masalah itu yang muncul ketika mengolah data kasus kejahatan dengan korban anak-anak. Laporan itu disusun oleh Kepolisian Daerah Jawa Barat.

Sepintas memang diolah secara rapi dalam tabel dengan rupa-rupa kolom. Namun ketika diolah banyak data yang bolong mulai dari yang umum seperti usia hingga yang krusial seperti proses hukum terhadap sebuah kasus.

Ada banyak data yang mendadak jadi tidak valid karena ada gundukan informasi yang berstatus “tidak ada keterangan”. Tapi sayang kalau data ini tak ditampilkan karena ada informasi penting yang bisa disampaikan melalui infografis ini.

Maka data yang berstatus “tak ada keterangan” itu dikesampingkan. Lalu dipilih yang masih berkualitas seperti jumlah korban, profil pelaku, dan profil korban.

Data yang sudah “dibersihkan” ini bisa menjelaskan benarkah kasus kekerasan seksual di Sukabumi terbilang “kejadian luar biasa” seperti ditetapkan Wali Kota Sukabumi M. Muraz.

Dengan rentetan berita kasus sejenis selepas yang menimpa siswa taman kanak-kanak Jakarta International School, sebenarnya seberapa banyak kasus serupa? Ternyata dari 256 kasus dengan korban anak-anak, hampir seluruhnya atau 243 kasus adalah kekerasan seksual.

Lalu seperti apa profil pelaku? Tentunya ini bukan mencari stereotipe, tapi menyiapkan bahan rujukan demi memikirkan pendidikan kewaspadaan seperti apa yang perlu disampaikan. Apalagi data menunjukkan pelaku mayoritas orang dekat dan dikenal korban.

Lantas kenapa memilih Jawa Barat dan bukannya memakai data nasional seperti milik KPAI? Sekali lagi tujuannya adalah memberi konteks terhadap kasus di Sukabumi.

Apakah dia memang luar biasa ataukah pada dasarnya di wilayah sekitarnya juga banyak terjadi. Apakah kasus itu tersendiri dan unik ataukah memang sebongkah salju di puncak gunung es kasus serupa.

Hasil lebih jelasnya bisa dilihat di Majalah Detik edisi 128. Bisa diunduh secara gratis di: http://majalah.detik.com/read/2014/05/09/223110/2578758/1314/catatan-horor-si-emon

Bunuh pawang, gajah digantung. Bunuh satwa, manusia di…?

Foto gajah dihukum gantung yang disebarkan @HistoryInPix ini mengerikan. Mary Si Gajah dieksekusi karena membunuh pawangnya pada 1916.

Entah ada proses pengadilan atau tidak, tapi salah siapa satwa liar berusaha dijinakkan buat tontonan manusia? Salahkah hewan kembali ke sifat alamiahnya?

Sudah terlalu sering di Indonesia harimau hingga orangutan dibantai  karena keluar dari hutannya yang kian gundul lalu masuk ke wilayah pemukiman sehingga dianggap mengganggu hajat hidup manusia. Ada juga kematian demi kematian satwa di kebun binatang.

Bukankah manusia penyebabnya juga mesti diburu? Ketika ada salah urus bukankah mestinya pelakunya dihukum? Apakah mereka bisa seenaknya lolos hanya karena korbannya bukan manusia? 

Hari ini Chandrika, macan putih mati sakit di Kebun Binatang Surabaya. Menyusul Michael, singa afrika yang tewas tergantung kabel di kandangnya.

Segera menyusul, Melanie, harimau yang pencernaannya hancur karena terlalu sering makan daging berformalin. Kapan ada keadilan buat mereka?

HBD Jose!

Mungkin dia tak mengerti betul kenapa hari ini papa dan mamanya menyanyikan lagu itu. Kenapa orang-orang mengecupnya setelah mengucapkan serangkaian kalimat yang juga tak dimengertinya. Atau kenapa keluarga terdekatnya makan bersama dengan dia.

Sebelum malam mencapai puncaknya, dia tertidur pulas tanpa benar-benar tahu bahwa hari nan spesial buatnya hanya tersisa beberapa jam saja. Bagi dia hari ini semua orang gembira dan dia pun tertawa. 

Selamat ulang tahun Jose. Seperti aku, nanti, ketika besar nanti, kamu akan mengerti keceriaan orang-orang pada hari istimewamu ini.
We make Tumblr themes